“ We may not be able to prepare the future for our children, but we can at least prepare our children for the future”
–Franklin D. Roosevelt–
Pengalaman dengan Gadget
Pernah merasakan rebutan gadget dengan anak?
Pernah merasakan sulitnya melarang anak untuk tidak terus menerus bermain gadget?
Pernah tahu rasanya bagaimana memanggil anak untuk melakukan sesuatu saat anak bermain gadget ?
Pernah terperangah tentang informasi yang anak peroleh ternyata didapat dari internet?
Pernah balik lagi ke rumah karena ketinggalan gadget?
—
Ya, gadget saat ini telah menjadi salah satu benda penting yang tak boleh tertinggal, nyaris harus selalu nempel kemana pun kita pergi. Lebih baik ketinggalan dompet dari pada ketinggal gadget, betul begitu, aybun ? Anak-anak kita hidup di era digital, sederhananya, si batita balita tuh ga perlu lagi dikenalin tutorial membuka dan menggunakan gadget. Klik tombol ini untuk itu, masuk ke sini nanti akan muncul seperti ini. Tekan ini untuk menggeser gambar. Ga perlu, aybun. Kenapa? Aiih, mereka bahkan bisa lebih jago, lebih gape dan lebih mengerti how to nya dari pada kita. Tanpa perlu diajarkan, mereka mampu menjalankan prosedur penggunaan layar pintar. Mengapa bisa demikian?
Bayangkan, anak kita itu melihat bagaimana ayah dan ibunya tak pernah jauh juga dari gadget dalam kesehariannya. Gadget tak pernah jauh dari genggaman orang-orang yang ada di lingkungan terdekatnya. Di kamar, di ruang tamu bahkan saat berkendara bersama anak-anak pun, orang tua nyaris menggenggam gadget kesayangannya. Anak melihat bagaimana orang dewasa di sekitarnya menggunakan layar pintar itu. Menggeser ke kanan dan ke kiri, menekan tombol ini dan itu. Mereka melihat bahwa orang dewasa merasakan kesenangan tertentu saat menggunakannya. Kadang tertawa sendiri di depan gadgetnya, kadang bisa asyik sendiri dengan fasilitas yang ada di gadget. Mungkinkah ini yang membuat mereka benar-benar meng copy-paste, meniru apa yang kita lakukan?
Bisa jadi. Karena pada dasarnya anak adalah peniru ulung, otaknya belum mampu memilah mana yang memang baik dan mana yang tak boleh ditiru. Maka adalah benar, bahwa pendidikan itu berawal dari kita, orang tuanya, orang dewasa terdekat yang ada dan paling sering berada di sekelilingnya.
Sebuah survey yang dilakukan oleh Commone Sense Media melaporkan bahwa ternyata 78% orang tua menjadi model anaknya dalam berteknologi, termasuk di dalamnya penggunaan gadget dan internet. Tak hanya itu, aybun, survey itu bilang bahwa orang tua menghabiskan 9 jam sehari dengan gadgetnya bukan untuk mengerjakan sesuai dengan pekerjaan, namun untuk bermedia sosial, nonton dan main games! Maka wajar kalau kemudian anaknya pun bermain gadget hingga 6 jam sehari. Oia, Common Sense Media itu merupakan sebuah organisasi non profit yang mendedikasikan untuk kepentingan pendidikan dan mengadvokasi keluarga untuk sehat dalam berteknologi bagi anak-anak.
Gadget dan internet pun sudah menjadi satu paket yang sulit sekali dilepas. Internet itu sesuatu yang mengagumkan, ia bisa memberikan keuntungan tak terbatas. Bayangkan bila anak-anak kita lepas pengawasan tanpa dibekali sesuatu untuk menghadapinya. Minimal kita memberikan bekal bagaimana memanfaatkan gadget dan internet dengan sehat. Mereka hidup di era serba digital, maka melarangnya bersentuhan dengan barang digital adalah sebuah kesalahan. Melakukan kerja sama yang baik untuk mengelolanya jauh lebih bijak. Lakukan bersama anak dengan membuat kesepatan akan jauh lebih bisa diterima dari pada melarangnya sama sekali untuk tidak bergadget ria.
#lapkeringetdah
Berikut ini cara-cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengelola gadget bersama anak-anak, selamat mencoba.
- Buat kesepakatan penggunaan gadget harian
Sebelum membuat kesepakatan. Buka dengan diskusi ringan beberapa hari sebelumnya, tentang gadget, efeknya bagi komunikasi di rumah dan sebagainya. Ceritakan mengapa kita perlu membuat kesepakatan bersama keluarga terkait penggunaan gadget. Karena namanya kesepakatan, maka semua anggota keluarga berhak memberikan pendapatnya serta wajib mematuhinya, termasuk, kita, orang tua. Contoh kesepakatan di rumah, tak ada gadget selama di meja makan, ruang keluarga, dalam kendaraan, di kamar dan saat kami berempat kumpul bersama. Berapa lama penggunaan gadget harian dan sebagainya bisa didiskuskan pada anggota keluarga.

- Ajarkan anak untuk menjaga dan menahan pandangan
Yuk, ajarkan anak untuk menjaga pandangan dan menjaga kemaluannya. Kalau kata bu Elly Risman, psikolog yang sangat aware dengan bahaya teknologi pada anak, jika otak sudah rusak, maka kemaluanmu tidak bisa dikendalikan. Coba tanyakan; bagaimana perasaanmu hari ini, Kak? Apa yang kakak suka tadi pagi? Kenapa kakak suka main pasir di teras? Gunakan pertanyaan terbuka untuk memancingnya bercerita. Membiasakan berdiskusi saat senang dan sedih dengan anak akan membuatnya bercerita pada kita begitu ia merasakan sesuatu.
- Letakkan PC atau komputer di ruang keluarga
Anak perlu tahu bahwa PC/leptop/tablet itu adalah barang milik bersama, maka meletakkannya di tengah keluarga artinya, anggota keluarga lain berhak menggunakan barang yang sama secara bergantian. Ssttt…. jangan lupa, arahkan layar PC ke arah yang bisa Anda lihat sambil lalu dari dapur atau saat berjalan menuju ruangan lain. Ini tantangan nih, karena kalau ruang tengah tidak nyaman bagi anak untuk menggunakan gadgetnya, anak akan berpindah ke kamar tidur yang kita sulit untuk mengawasinya.

- Dampingi saat anak-anak bermain game
Mendampingi anak bukan berarti kita harus duduk di sampingnya terus menerus selama anak bermain game. Namun mengedukasi sedikit demi sedikit mengenai konten permainan. Bisa juga loh melibatkan adiknya berbagi peran dalam bermain bisa menjadi bagian saat kita mendampingi mereka bermain. Akan tambah menarik kalau kita pun ikut MABAR, aybun, alias MAin BAReng anak. Pasti seru deh. Jangan lupa, sesekali ajukan pertanyaan saat anak bermain menggunakan gadget agar ia tetap ‘sadar’ bahwa ia berada di dunia nyata bersama kita.
- Arahkan pada aktifitas teknologi yang tepat guna
Saat kita sedang berdiskusi dengan keluarga, bila menemukan sesuatu yang sulit, kekurangan informasi, kita bisa mengajak dan melibatkan anak untuk mencari informasi yang dibutuhkan di internet bersama-sama. Memilih aplikasi yang tepat dan sesuai dengan kemampuan serta usia anak juga bisa menjadi alternatif. Jangan lupa untuk menguji coba dulu aplikasi itu sebelum dikenalkan pada anak. Kalau dirasa aman untuk kemampuan dan usia anak kita, maka berikan dengan waktu bermain sesuai kesepakatan.
- Imbangi dengan aktifitas bergerak
Berikan kegiatan lain tanpa bersentuhan dengan gadget. Ajak ke tempat atau taman bermain di mana mereka bisa bersosialisai sesungguhnya dengan dunia nyata. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa cara belajar terbaik bagi anak di bawah usia 3 tahun adalah belajar dari dunia nyata, bukan dengan cara menonton layar. Sebab otak mereka memerlukan latihan dan variasi kegiatan. Bila mendongeng atau belajar melalui layar, kaitkan segera dengan mencari benda dalam belajar on line itu di dunia nyata, untuk memaksimalkan pembelajaran dan keseimbangan dunia maya dan dunia nyata.
Penelitian lain untuk anak jelang baligh, melibatkan anak-anak selama lima hari tanpa layar ternyata membuat peningkatan yang lebih baik ketika memahami emosi orang lain. Mereka tahu bagaimana menyikapi orang lain dengan baik. Cerita mereka yang mengikuti lima hari tanpa layar ini sangat beragam, tapi ada satu benang merahnya, bahwa tanpa gadget ternyata jauh lebih menyenangkan karena mereka bisa berinteraksi langsung dengan teman sebaya. (buku media moms and digital dads karya Yalda T Uhis, MBA, Ph.D., hal. 71)
- Up date segala informasi teknologi sesuai dengan usia anak Anda
Apa yang sedang berkembang di lingkungan anak-anak sekarang, wajib kita ketahui. Bisa jadi, kita pun bisa bertukar informasi dengan anak-anak terkait situs-situs yang mengasyikkan untuk di akses bersama dengan aman. Sederhananya, minimal sejajarkan informasi kita dengan anak-anak mengenai informasi kekinian.
- Orang tua adalah panutan anak-anak
Ya, jadilah contoh yang baik bagi anak. Kesepakatan yang telah dibuat oleh keluarga, pastikan bahwa itu pun berlaku untuk ayah dan bunda.
Ingatlah, bahwa kita tidak bisa menyiapkan masa depan untuk anak kita, tapi kita bisa menyiapkan anak-anak untuk masa depan. Teringat nasihat sahabat Nabi SAW bahwa didiklah anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu. Ya, mereka hidup di zaman yang sangat berbeda 180 derajat dengan zaman saat kita seusia mereka kini. Mengenalkan dan mengajarkan mereka sesuatu yang sesuai dengan zaman mereka kelak membuat kita, orang tua, harus terus bergerak dan mau belajar untuk menemani mereka tumbuh dan berkembang.
Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita di mana pun berada.